16 Januari 2009

Muhasabah dan Muraqabah

(Metode Terapi Hati)

Tahun telah berlalu. Bulan-bulan telah lewat. Kita sudah berada di tahun 2009. Tahun yang menurut para peramal tetap (masih) berada dalam lingkaran kekacauan (chaos) politik. Belum lagi bencana alam yang terus menghantui negara kita. Dan isu utama tentunya pemilu 2009. Nuansa politik sudah terasa sejak beberapa bulan yang lalu. Jalan-jalan sudah sudah menjadi papan reklame untuk promosi para calon "pemimpin" bangsa ini. 'Perang' ideologis sudah dimulai. Masing-masing memaparkan visi dan misinya. Politisi-politisi dadakan ini tentunya menjadi fenomena harian kita. Apakah proses demokratisasi sudah berjalan di negeri kita? Apakah tampilnya politisi-politisi baru dalam kancah perpolitikan kita merupakan angin segar atau justru menjadi preseden buruk? Apakah partai-partai sudah betul-betul mengajukan calon-calon legislatif yang kompeten yang memahami persoalan bangsa ini, atau justru menjadi ladang kumpulnya orang-orang yang berorientasi memperkaya diri.

Orang awam mungkin hanya bisa bergumam dalam hatinya, "Apakah di tahun 2009 ada secercah harapan, apakah ada seonggok keadilan, apakah ada kesejahteraan? Untuk itu mari kita menengok ke belakang, mengevaluasi masa lalu untuk maju ke depan. Islam mengajarkan dalam keadaan seperti ini, masing-masing kita harus mengevaluasi diri, berkaca kembali, apakah hati kita benar-benar sudah bersih untuk menghadapi tahun baru ini.

Tahun baru dalam Islam harus dimaknai sebagai upaya untuk berhijrah. Hijrah dari keadaan yang kurang baik menuju hal yang lebih baik. Hijrah dari kesulitan menuju kemudahan. Hijrah dari 'kemiskinan' menuju kekayaan hati. Kata kunci dalam perubahan itu semua adalah muhasabah (introspeksi diri) dan muraqabah (pengawasan diri). Dua hal ini adalah metode terapi hati. Hati kita harus dibersihkan, harus disucikan, harus diluruskan, sehingga menjadi hati yang sehat (salim).
Rasulullah SAW bersabda:

الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ (رواه الترمذى)

"Orang yang cerdas adalah orang yang mengintrospeksi diri dan beramal untuk persiapan sesudah mati, dan orang yang lemah adalah orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya dan berangan-angan untuk (diselamatkan) Allah." (HR. al-Tirmidzi)

Imam Ahmad menyebutkan riwayat, dari Umar bin al-Khattab RA, dia berkata,

حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا وَزِنُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوْزَنُوْا فَإِنَّهُ أَهْوَنُ عَلَيْكُمْ فِى الحِسَابِ غَدًا أَنْ تُحَاسَبُوْا أَنْفُسَكُمْ الْيَوْمَ، وَتَزَيَّنُوْا لِلْعَرْضِ الأَكْبَرِ.

"Hisablah diri kalian sebelum kalian dihibab, dan timbanglah (amal-amal) diri kalian sebelum kalian ditimbang, karena sesungguhnya hal itu dapat meringankan kalian atas hisab di hari kemudian, disebabkan hisab kalian saat ini. Dan berhiaslah (persiapkan diri) kalian untuk hari penghadapan yang terbesar."

Muhasabah (introspeksi diri) ada dua macam, satu macam harus dilakukan sebelum berbuat, dan satunya lagi dilakukan sesudah berbuat.

1. Muhasabah sebelum beramal
Yaitu ketika orang ingin memulai suatu pekerjaan dan hendak mengawalinya, hendaklah mempertimbangkan hingga benar-benar jelas keutamaannya daripada meninggalkannya.
Al-Hasan berkata, 'Allah merahmati seorang hamba yang merenung sejenak ketika berkeinginan (melakukan sesuatu), bila hal itu karena Allah, maka dia menjalaninya, tetapi bila karena selain-Nya, maka dia harus meninggalkannya.
Ibnu Qayyim mengatakan, apabila seseorang melakukan suatu perbuatan karena keinginan mendapatkan ridla Allah, maka orang itu harus merenung sekali lagi dan berpikir, apakah dia membutuhkan rekan penolong untuk melakukannya atau tidak? Dan apakah dia memiliki orang-orang yang akan menolongnya bila dia membutuhkan pertolongan? Bila ternyata dia tidak memiliki penolong, maka dia harus berhentik dan menunda dulu sebagaimana Rasulullah mengulur jihad di Makkah hingga beliau mendapatkan kekuatan dan penolong.

2. Muhasabah setelah beramal.
Jenis muhasabah yang kedua ini dilakukan setelah beramal, dan terbagi menjadi tiga macam: a) Muhasabah jiwa atas ketaatan yang telah kurang sempurna dalam menyempurnakan hal Allah, sehingga tidak melaksnakannya sesuai dengan yang sepantasnya. b) Menghisab diri sendiri atas segala amal yang mana meninggalkannya adalah lebih baik daripada mengerjakannya. c) Menghisab diri sendiri atas amal yang biasa dilakukan, kenapa dia melakukannya? Apakah dia melakukannya untuk mendapatkan ridla Allah dan akhirat? Atau untuk kehidupan dunia?

Setelah seseorang telah melakukan upaya muhasabah, maka dia harus melakukan upaya muraqabah (pengawasan diri). Dia harus meneliti, mengawasi dan mengontrol semua aktivitasnya. Upaya muraqabah ini tidak akan berjalan mulus tanpa dibantu oleh kesadaran dan keyakinannya bahwa setiap kali dia bersungguh-sungguh, maka ia akan mendapatkan keuntungan, dan siapa saja yang meremehkannya, maka dia akan mendapatkan kerugian.

Harapan kita, semoga para politisi-politisi yang akan berlaga dalam pemilu 2009 ini, mengintrospeksi (muhasabah) dahulu dirinya sebelum melangkah lebih jauh, kemudian terus melakukan upaya muraqabah (pengawasan/control) atas semua aktivitasnya. Karena bermuhasabah adalah sebuah kewajiban.

يَاأَيُّهَا الَّذِيَنَ آمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لَغَدٍ (الحشر: 18)

"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)." (Al-Hasyr: 18). Dan finalnya, setiap hamba akan dimintai pertanggungjawaban tentang segala sesuatu, sampai pendengaran, penglihatan dan hatinya pun akan ditanya.

إِنَّ السَّمْعَ وَالبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئكَ كَانَ مَسْئُوْلاً (الإسراء: 36)

"Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya" (QS. Al-Isra: 36)


Semoga, sekali lagi semoga, niat mereka tulus untuk kesejahteraan bangsa kita, amin.


Tidak ada komentar: