01 Februari 2009

TAFAKKUR

Banyak sekali kita temukan dalam al-Quran ayat-ayat yang memerintahkan kita untuk bertafakkur. Dalam Kamus Besar Indonesia, Tafakkur berarti renungan atau menimbang-nimbang dengan sungguh-sungguh. Dalam terminologi tasawuf, Tafakkur adalah Gerakan kesadaran jiwa yang terbit dari kesadaran naluri yang paling dalam, yang menerbitkan pengakuan-pengakuan kepada Allah Tuhan yang Maha Kuasa, terhadap masalah diri, amal perbuatan dan pandangan terhadap kekuasaan Allah. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 191 yang artinya: "Orang-orang yang selalu ingat kepada Allah di saat ia berdiri, duduk dan berbaring, dan selalu bertafakkur atas kejadian langit dan bumi, mereka itu berkata: Tidaklah sia-sia Ya Allah segala apa yang Kau jadikan, Maha suci Engkau Ya Allah, dan hindarkanlah kami dari azab neraka."
Berikut hadis Nabi yang selalu menjadi idaman kalangan ahli tasawuf yang berbunyi:
التفكر ساعة كعبد الله ستين سنة
(Bertafakkur sejenak, seperti beribadah kepada Allah selama enam puluh tahun)
Kapanpun dan dimanapun kita boleh bertafakkur. Esensi tafakkur adalah merenungkan dua hal yang bertolak belakang, yaitu merenungkan kebenaran dan kebatilan. Kebenaran yang datang dari Allah diterima manusia dengan batinnya, roh dan akalnya. Namun penerimaan oleh akal manusia justru sangat terbatas, terutama mengenai hal-hal yang gaib. Hal-hal yang gaib itu hanya diterima dengan iman oleh hati nurani manusia yang mendapat sinar hidayah dari Allah. Karena itulah al-Quran diturunkan untuk membimbing hati nurani manusia supaya jangan terperangkap kepada pemikiran spekulatif dari akal.

Berfikir spekulatif dengan akal atau filsafat adalah sangat berbahaya, karena yang dibicarakan bukanlah obyek realitas, tetapi di luar fisik yang nyata. Wilayah gaib adalah wilayah iman. Sifat batin sebagai sumber penerima petunjuk digambarkan dalam al-Quran laksana sebuah kaca yang memancarkan cahaya yang bersih, terang benderang, laksana bintang yang memancarkan cahaya (memberi petunjuk) di malam yang gelap, di sana ada sebuah sumbu yang selalu menyala, tidak tahu dari mana asal nampaknya, tetapi ia menyala dari sumbu yang tinggi, yaitu ARASY. Oleh karena itu kebenaran itu tidak bisa dinilai secara material atau lahiriyah, akan tetapi ia selalu dinilai secara batiniyah.
Perlu kita perhatikan hal-hal berikut:

1. Syaitan mencoba menipu manusia yaitu agar manusia itu selalu menilai kebenaran dari aplikasi lahiriyah, sehingga pandangan lahiriyah dijadikan syaitan untuk menipu kebenaran itu. Hal ini menurut istilah Ibnu Taimiyyah disebut Talbis Iblis, yaitu permainan iblis dalam perbuatan yang tampaknya baik.

2. Syaitan selalu suka menggerakkan kita untuk melihat kesalahan orang lain dan tidak pernah menunjukkan kebenaran orang lain. Self correction (mengontrol diri ke dalam) tidak mungkin kita lakukan dari luar, tetapi hal itu dapat kita lakukan dari dalam diri kita sendiri. Dunia ini penuh dengan kepalsuan, sehingga kebenaran yang diukur dengan sifat-sifat keduniawian itu menjadi palsu pula, maka menjadi palsulah kebenaran itu. Orang bisa mengatakan orang lain salah, padahal dirinya sendiri salah. Mengoreksi keluar diri tidak mungkin menemukan kebenaran hakiki. Koreksilah diri ke dalam (diri kita sendiri) sehingga akan dapatlah ditemukan kebenaran yang hakiki.

Rasulullah SAW bersabda: أفتى قلبك (Mintalah fatwa dengan hati nuranimu). Istilah ini disebut muara kebenaran (hati nurani), sebab untuk mengukur kebenaran yang hakiki itu adalah batin kita. Mengukur kebenaran itu adalah awal perbuatan yang benar. Untuk mengoreksi ke dalam diri diperlukan "Afti Qalbaka". Sumber kebenaran itu adalah hati nurani. Disebutkan dalam sebuah hadis qudsi:
قلب المؤمن بيت الله
(Hati orang yang beriman itu adalah Baitullah). Maksudnya di sanalah engkau akan menemukan kesucian dan kemurnian dalam hidup yang dibimbing Allah SWT.

Nur adalah petunjuk Allah yang diturunkan ke hati nurani (tidak turun ke akal pikiran). Di situlah tanda iman seseorang yang lurus dan melahirkan amal perbuatan yang baik. Tidak akan berzina seorang penzina manakala ia berzina ia ingat kepada Allah SWT. Tidak akan mencuri seorang pencuri manakala ia mencuri ia ingat kepada Allah SWT. Tidak akan minum khamr seorang peminum manakala ia minum khamr ia ingat kepada Allah SWT.
Kalau nur (cahaya) dalam batin kita sudah terpengaruh oleh bujukan dan rayuan Syaitan (iblis) maka fungsinya bukan lagi sebagai petunjuk dan tidak pula ia sebagai Baitullah, tetapi ia telah berubah menjadi Baitul Iblis (rumah iblis).
Allah SWT minta pengakuan manusia secara jujur kalau manusia itu memang salah dan segera minta ampun kepada-Nya atas segala kesalahan (dosa yang diperbuatnya), karena Allah bersifat Maha Pengampun kepada setiap hamba-Nya dan Allah tidak pendendam, Allah bersifat Rahman dan Rahim kepada setiap hamba-Nya.

Kepada Allah kita harus jujur atas segala perbuatan kita yang salah dan keliru. Dari pintu ini kita bisa mengoreksi segala kesalahan dalam diri kita. Manusia dengan sesama manusia jarang sekali mau mengakui kesalahannya padahal ia salah, karena:
1. Takut kehilangan kehormatan diri
2. Menghajatkan penghargaan atau kehormatan dari orang lain.
Dari uraian di atas, kunci segala perubahan adalah Tafakkur. Dengan demikian maka seyognyanya kita bertafakkur kapan dan dimana pun kita berada. Beberapa ulama berpendapat bahwa dalam rangka mendidik umat, seperti disampaikan Abu Bakr al-Razi, bertafakkur ini sangat baik apabila dilakukan setelah selesai shalat fardhu dan shalat-shalat sunnat seperti setelah shalat Tahajjud.

Tuntunan tata cara bertafakkur yang baik:
1. Membaca dua kalimat syahadat.
Awalilah ketika kita mulai bertafakkur dengan dua kalimat syahadat.
(أشهد أن لا إله إلاّ الله وأشهد أن محمدا رسول الله)
Membaca dua kalimat syahadat ini dengan penuh makna dan pengertian dalam batin serta penuh keyakinan kepada Allah SWT. Menurut pendapat para sufi: syahadat itu adalah Nur Muhammad, pintu surga bertulis kalimat syahadat dan pada dahi orang yang beriman selalu ada tulisan dua kalimat syahadat. Mereka juga berpendapat bahwa syahadat itu perlu diperbaharui terus setiap saat, karena dikhawatirkan kalau-kalau syahadat kita gugur atau batal karena dosa yang kita perbuat atau kalau ada perbuatan kita dalam perjalanan hidup sehari-hari yang menggugurkan kepada syirik terhadap Allah SWT.

2. Setelah mengucapkan dua kalimat syahadat, kemudian kita melakukan hal-hal sebagai berikut:
a. Ibrah (عبرة) = evaluasi
b. Khauf (خوف) = perasaan cemas (kecemasan)
c. Raja' (رجاء) = harapan
Ibrah adalah gagasan untuk mengevaluasi dan melakukan penelitian obyektif tentang keadaan diri dan amal perbuatan diri kita. Khauf yaitu perlimpahan perasaan kecemasan dan kekhawatiran serta praduga akan akibat amal perbuatan. Raja yaitu sikap optimis dengan harapan-harapan yang tumbuh dalam batin berisi permintaan yang penuh kepada Allah SWT.

3. Setelah selesai bertafakkur, kemudian bacalah doa:
الله حيٌّ، قيّومٌ، دائمٌ، باقِى
(Allah Tuhan Yang Maha Hidup, Yang berdiri Sendiri, Yang Kekal dan Yang Abadi)
Apabila kita mengerjakan semua ini, Insya Allah akan berpengaruh terhadap jiwa dan rohani kita, dan dalam hidup dan kehidupan kita. Semuanya akan memberi pengaruh yang besar terhadap batin kita dalam menuntun dan membimbing rohani kita ke jalan-Nya yang benar, dan senantiasa ditunjuki oleh Allah SWT.
Dalam bertafakkur kita harus berada dalam Bainal Khaufi wal Raja', yakni dalam keadaan seimbang antara kecemasan dan harapan-harapan, sikap optimis dalam batin. Jadi jangan terlalu banyak perasaan cemas, sebab akan menimbulkan sikap pesimistis, dan jangan terlalu banyak harapan-harapan. Yang paling baik ialah seimbang antara perasaan cemas atau kecemasan dan harapan-harapan (sikap optimis). Wallahu A`lam bissawab. (Disarikan dari kitab al-Asās Ilā Tharīq al-Haq, karya H. Muhammad Rafi`ie Hamdie).

Tidak ada komentar: