14 Februari 2009

KHUSYU'

Dalam kitab Tibb al-Qulub, dinyatakan bahwa Khusyu' adalah menghadapnya hati kepada Allah Swt dengan ketundukan dan kehinaan serta dengan menghimpun seluruh kandungan hati. Ada yang berkata, 'khusyu' adalah ketundukan kepada kebenaran. Al-Junaid berkata, "khusyu' adalah ketundukan hati terhadap Allah Yang Maha Mengetahui yang ghaib."
Imam Ibnu al-Qayyim berkata, "orang-orang arif telah sepakat berpendapat bahwa sesungguhnya khusyu' itu letakknya di hati, dan buahnya tampak pada anggota-anggota badan, dan ia memperlihatkannya dengan jelas. Rasulullah Saw. melihat seorang yang mengibas-ibaskan jenggotnya dalam shalat. Dan Rasulullah bersabda,
لَوْ خَشِعَ القَلْبُ هذَا لَخَشِعَ جَوَارِحُهُ
(Kalau seandainya hati orang ini khusyu', niscaya anggota badan-badannya juga khusyu'). Dan Rasulullah bersabda, التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ (Takwa itu ada di sini –beliau mengisyaratkan ke dadanya tiga kali).
Sebagian para orang arif berkata, 'Baiknya adab lahiriyah adalah tanda baiknya adab batiniyah. Sebagian mereka melihat orang yang khusyu'nya tampak pada dua pundak dan badannya, kemudian menasihatinya, 'Wahai Fulan, khusyu itu ada di sini. Dia mengisyaratkan ke dadanya, bukan di sini, dan dia menunjuk ke dua pundaknya.'

Sebagian sahabat, yaitu Hudzaifah berkata, 'Jauhilah dari kalian khusyu' yang munafik.' Ada yang bertanya, 'Apa khusyu' munafik itu?' Dia menjawab, 'Badan terlihat khusyu' namun hati tidak khusyu'. Umar bin Khattab melihat seseorang menundukkan kepalanya dalam shalat, kemudian berkata, "Wahai pemilik kepala, angkatlah kepalamu karena khusyu' itu bukanlah di kepala. Sesungguhnya khusyu' itu ada dalam hati. Aisyah melihat seorang pemuda yang berjalan dan berlaku seolah-olah orang mati dalam berjalannya. Dia bertanya kepada teman-temannya, 'siapa mereka?' Mereka menjawabnya, "Mereka adalah ahli ibadah." Dia berkata, 'Sesungguhnya Umar bin al-Khattab bila berjalan, maka dia melakukannya dengan cepat, bila berbicara, maka dia memperdengarkan suaranya, bila memukul, maka pukulannya membuat orang merasakan sakit, dan bila dia memberi makanan, maka dia akan mengenyangkan orang. Dia adalah ahli ibadah yang sejati.'

Di dalam kitab Futuhat al-Makkiyyah, karya Ibnu Arabi, diceritakan kisah-kisah tentang orang yang khusyu. Salah satunya adalah kisah tentang seorang pemuda belia yang mempelajari tasawuf kepada gurunya. Pada suatu pagi, pemuda itu menemui gurunya dalam keadaan pucat pasi. Anak muda itu berkata, "Semalam, aku khatamkan Al-Quran dalam shalat malamku." Gurunya berkata, "Bagus. Kalau begitu, aku sarankan nanti malam bacalah Al-Quran dan hadirkan seakan-akan aku berada di hadapanmu dan mendengarkan bacaanmu." Esok harinya, pemuda itu mengeluh, "Ya Ustadz, tadi malam saya tidak sanggup menyelesaikan Al-Quran lebih dari setengahnya." Gurunya menjawab, "Kalau begitu, nanti malam bacalah Al-Quran dan hadirkan di hadapanmu para sahabat Nabi yang mendengarkan Al-Quran itu langsung dari Rasulullah Saw." Keesokan harinya, pemuda itu berkata, "Ya Ustadz semalam aku tak bisa menyelesaikan sepertiga dari Al-Quran itu." "Nanti malam," kata gurunya, "bacalah Al-Quran dengan menghadirkan Rasulullah Saw di hadapanmu, yang kepadanya Al-Quran itu turun." Esok paginya pemuda itu bercerita, "Tadi malam aku hanya bisa menyelesaikan Al-Quran itu satu juz. Itupun dengan susah payah." Sang guru kembali berkata, "Nanti malam, bacalah Al-Quran itu dengan menghadirkan Jibril, yang diutus Tuhan untuk menyampaikan Al-Quran kepada Rasulullah Saw." Esoknya, pemuda itu bercerita bahwa ia tak sanggup menyelesaikan satu juz Al-Quran. Gurunya lalu berkata, "Nanti jika engkau membaca Al-Quran, hadirkan Allah Swt. dihadapanmu. Karena sebetulnya yang mendengarkan bacaan Al-Quran itu adalah Allah Swt. Dialah yang menurunkan bacaan itu kepada mu." Esok harinya, pemuda itu jatuh sakit. Ketika gurunya bertanya, "Apa yang terjadi?" Anak muda itu menjawab, "Aku tak bisa menyelesaikan hatta al-Fatihah sekalipun. Ketika hendak kuucapkan iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in, lidahku tak sangguhp. Karena aku tahu hatiku tengah berdusta. Dalam mulut, kuucapkan, Tuhan, kepadaMu aku beribadah, tapi dalam hatiku aku tahu aku sering memerhatikan selain Dia. Ucapan itu tidak mau keluar dari lidahku. Sampai terbit fajar, aku tak bisa menyelesaikan iyyaka na'budu wa iyyaka nasta'in ." Tiga hari kemudian, anak muda itu meninggal dunia.

Sebenarnya yang diceritakan guru itu kepada muridnya adalah cara memperoleh hati yang khusyu. Hati yang khusyu adalah hati yang sanggup menghadirkan Allah Swt dihadapnnya. Hal itu membutuhkan riyadah-riyadah terlebih dahulu. Sekarang kita paham, kenapa dalam tarikat, kita harus menghadirkan guru di dalam doa-doa kita. Hal itu sebenarnya adalah suatu latihan. Karena sulit bagi kita menghadirkan Allah Swt sekaligus, kita mulai dengan menghadirkan guru kita terlebih dahulu.

2 komentar:

Sutisna Sutisna mengatakan...

subhanalloh, terimakasih atas postingannya membantu wawasan saya dalam beribadah.

Sutisna Sutisna mengatakan...

subhanalloh, terimakasih atas postingannya membantu wawasan saya dalam beribadah.